Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi Swasta Solo Harus Go Internasional

| May 26, 2017 | 0 Comments

APTISI

Solo – Baru-baru ini Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) membuka peluang besar untuk melakukan saling kerjasama dengan perguruan tinggi di Sindonesia. Pendidik di Malaysia mengaku sangat mengagumi sumber daya manusia juga potensi alam yang ada di Indonesia, hanya sayangnya masih belum di eksplorasi dengan maksimal. Hal tersebut didapat usai Aptisi menggelar rapat evaluasi di hotel Syariah dua pekan lalu diikuti oleh 117 peserta dari 25 PTS se Solo Raya. Kerjasama yang dilakukan Indonesia-Malaysia, khususnya antara UNKL dengan APTISI, ada banyak hal yang bisa saling ditukarkan. Antara lain pertukaran ilmu pengetahuan, pertukaran pelajar, mahasiswa dan dosen, juga kerjasama riset.
Januari sudah terjadi pemilihan kepengurusan Aptisi yang baru, Prof Ali Mursyid dipercaya menjadi Ketua APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta) Komisariat II Surakarta,

Ali melihat kondisi Perguruan Tinggi- Perguruan Tinggi Swasta di wilayah Solo Raya ini nanti harus dapat menginternasional. Dalam era MEA, paling tidak Perguruan Tinggi harus mberunjuk gigi. Benderanya sudah dapat terlihat dari negara-negara ASEAN.

Rencananya usai lebaran nanti Aptisi akan mengirim mahasiswa ke Universitas di Kuala Lumpur Malaysia. Kemudian bulan Juni ada mahasiswa USE university Malaysia yang akan datang ke Surakarta. Tentunya pihaknya akan mendestribusikan kepada Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi Swasta di wilayah sini.

“Agar saling bersilaturahmi, supaya tidak kaget, mahasiswa kita mengerti bagaimana mahasiswa sana seberapa sih kemampuannya dan ketika mahasiswa kita kesana tidak canggung karna mahasiswa kita kadang minder karna luar negeri itu dianggap lebih bagus Padahal ini nantikan era pencarian pekerjaan bebas di negara ASEAN, maka program saya pengen menginternasionalisasikan Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi Swasta Solo di wilayah ASEAN, agar nanti lulusannya tidak canggung kalau mencari pekerjaan di negara-negara ASEAN” papar Ali.

Ali melihat Aspek sarana dan prasarana menjadi masalah, namun ia berharap sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor penunjang. Menurunya keberhasilan pendidikan bukan dari faktor dosen, dan juga tidak semata-mata di sarana dan prasarana, namun terletak pada faktor sumberd daya manusia.

“Tahun 60’an kita punya sarana apa sih ? mengapa banyak orang besar bisa lahir di era pendidikan saat itu ? kita dulu disegani di ASEAN, banyak orang datang ke Perguruan di Indonesia untuk belajar” imbuh Ali

Berkaca dari saat itu, kemudian Aptisi akan memetakan SDM khususnya dosen-dosen di PTS soloraya ini. Ali meyakini masih terjadi ketimpangan, di universitas SDM sudah agak tingggi dapat dilihat dari jabatan fungsional akademik, kualifikasi pendidikan sudah banyak bergelar doctor. Namun masih banyak Perguruan Tinggi swasta yang hingga ikin akademisinya masih kurang. Itu yang akan menjadi perhatian Aptisi untuk dipetakan dalam waktu dekat ini.

Program pendekatan secepatnya dilakukan guna gap antara perguruan tinggi besar dan Perguruan Tinggi kecil di bidang SDM dapat bersinergi dari total 70 an perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah. Dosen diwajibkan bergelar doctor sesuai peraturan pemerintah dalam waktu dekat.
Hal yang perlu diantisipasi adalah Jjika UU baru kemudian banyak dosen yang tidak memenuhi maka pendekatannya SDM, tersebut yaitu dosen.

Aptisi memayungi hukum Perguruan Tinggi sebanyak 70 PTS. Perguruan Tinggi mempunyai program D1, D3, S1, S2. Dalam menghadapi persaingan antara perguruan tinggi negeri dan swasta dalam penerimaan mahasiswa baru “quantity for quality” meraih kuantitas harus berpangkal dari kualitas, kualitas perguruan tinggi ingin harus naik guna meraih mahasiswa. Karena bagaimanapun Aptisi sulit mengendalikan perguruan tinggi negeri. Bagaimanapun juga dari segi kualitas sebagian besar PTS masih kalah dari PTN. PTS juga lebih mandiri dengan bisa mendapatkan sumber dana secara mandiri. Bila dibandingkan, PTN dapat biaya dari pemerintah atau pajak yang mana bisa dimanfaatkan sebagai pengembangan universitas tersebut. Meskipun tidak sepadan dalam hal itu, PTS tetaplah bukan nomor dua, itu agak mudah kalo pendekatannya lewat sumber daya manusia maka itu program kami.
Seperti kita ketahui terpilihnya Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Ali Mursyid sebagai Ketua APTISI Komisariat II Surakarta untuk periode 2017-2020. Ali terpilih menggantikan ketua terdahulu, Margono.

SUSUNAN PENGURUS KOMISARIAT
ASOSIASI PERGURUAN TINGGI SWASTA INDONESIA (APTISI)
WILAYAH VI JAWA TENGAH, MASA BAKTI 2016-2020

1. Penasehat : 1. Drs. St. Sukirno, MS
2. Dr. Muhdi, S.H., M.H
2. Ketua : Dr. H. Hasan Abdul Rozak, S.h., C.N., M.M
Wk. Ketua

1) Bidang Pembinaan : Prof. Dr. Masruki, M.Pd
2) Bidang Litbang dan Evaluasi : Dr. Sugeng Maryanto, M.Kes
3) Bidang Organisasi dan Usaha : Dr. Suparnyo, S.H., M.S
4) Bidang Kerjasama : Dr. Fery Mendrofa, S.K.M., M.Kep., Sp.Kom
3. Sekretaris : Andi Kridasusila, S.E., M.M
Wk. Sekretaris I : Dra. Renny Apriliani, M.M
Wk. Sekretaris II : Drs. Marius Pramana, M.Si
Wk. Sekretaris III : Ir. Rumiyadi, M.Si
4. Bendahara : Dr. Hargianti Dini Iswandari, drg., M.M
Wk. Bendahara : Ir. Agus Darwanto, M.T

Category: Jurnal

About the Author ()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *